Asal Usul Krisis Keuangan 2008

23 10 2008

Saya menulis note ini karena merasa bahwa penjelasan tentang krisis ini dalam bahasa Indonesia sangat sulit untuk didapat. Padahal, krisis ini menyangkut kepentingan banyak, kalau tidak semua, orang.

Rasanya memang sudah sangat terlambat bagi saya untuk menulis note dengan tema ini. Krisinya sudah dimulai dari beberapa tahun lalu dan kondisi keuangan global dunia sudah (untuk sekarang) stabil. Namun saya berharap note ini akan mampu memberikan pengertian terhadap krisis yang kita hadapi. Baik bagi teman2, maupun bagi saya yang akan sangat menghargai jika teman2 mengkoreksi pemikiran atau fakta-fakta saya yang salah.

Amerika Serikat, Pertengahan 1990-an.

Warga Amerika mulai mendesak pemerintahannya untuk mempermudah kepemilikan rumah bagi warga yang kurang mampu. Dalam membeli rumah baru, kebanyakan warga menggunakan fasilitas mortgage (kalau di Indonesia, istilahnya KPR), sebuah fasilitas peminjaman uang jangka panjang untuk membeli perumahan. Mortgage dikeluarkan oleh bank yang akan memberikan pinjaman kepada pembeli rumah untuk melunasi rumahnya dan pembeli rumah tersebut akan mencicil kembali pinjamannya dalam jangka waktu panjang; 10, 20 atau 30 tahun.

Bank ini kemudian akan menjual mortgage2 tersebut kepada Fannie Mae dan Freddie Mac yang, dengan jaminan pemerintah Amerika, menggabungkan mortgage2 tersebut menjadi Motgage Backed Securities (MBS) dan menjualnya kepada Wall Street. Dengan begitu, Fannie Mae dan Freddie Mac dapat menyediakan dana yang cukup bagi bank2 yang kemudian akan memberikan mortgage kepada rakyat Amerika. Secara tidak langsung, para pemegang mortgage melunasi cicilan mortgagenya kepada investor, bukan kepada bank dimana dia menarik mortgage tersebut.

Dalam kondisi normal, bank tidak akan pernah mau memberikan pinjaman kepada pihak yang dinilai tidak mampu membayar kembali pinjamannya (tidak credit-worthy). Karena jika seorang peminjam (baca: debitor) tidak mampu mengembalikan cicilan pinjamannya ( mengalami default), bank itu sendiri yang akan rugi. Dari zaman dahulu, hal ini yang menghambat warga amerika untuk dapat mengambil mortgage dan memiliki rumah sendiri……sampai pada pertengahan 1990an.

Tekanan dari warga Amerika untuk meringankan persyaratan dalam mengambil mortgage akhirnya mampu meluluhkan pemerintah Amerika. Mulai tahun 1995, Fannie Mae diperbolehkan menjamin kredit atas mortgage subprime.

Subprime Mortgage dan Housing Bubble

Subprime mortgage adalah jenis mortgage yang diambil oleh orang yang dinilai tidak layak untuk mendapatkan kredit. Logikanya, orang2 yang mengambil subprime mortgage ini tidak akan mampu mengembalikan pinjamannya. Hal itu benar, jika tidak diikuti kebijakan2 lainnya. The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika) menurunkan suku bunganya menjadi sangat rendah, sehingga bunga mortgage ikut2an rendah. Hal ini memicu orang2 untuk cepat2 mengambil mortgage, walaupun bentuknya subprime.

Karena banyaknya orang2 yang membeli rumah (bahkan satu keluarga bisa punya 2-3 rumah), harga rumah naik. Terjadilah housing bubble.

Orang2 yang tadinya akan default terhadap mortgagenya, tinggal melakukan refinancing. Refinancing adalah praktek mengambil mortgage lagi dan melunasi mortgage sebelumnya. Dengan harga rumah yang meningkat terus, nilai rumah yang dijadikan agunan akan melebihi nilai mortgage sebelumnya. Hal ini memungkinkan sang debitor untuk mengambil utang baru demi menutupi utang lamanya. Selama harga rumah terus naik, orang akan selalu melakukan refinancing dan memperpanjan mortgagenya. Toh, mereka pikir, jika memang sudah tidak sanggup bayar lagi, rumahnya dapat dijual dengan harga lebih tinggi daripada mortgage yang terakhir diambil dan dapat menghasilkan keuntungan capital gain.

Here Come The Big Boys

Dengan jaminan pemerintah, investor-investor yang membiayai mortgage2 ini melalui pembelian MBS mendapatkan sebuah instrumen investasi yang risk-free dan menghasilkan keuntungan yang besar. Sebagai perantara antara bank dan investor, Fannie Mae dan Freddie Mac juga mendapatkan keuntungan besar. Bank-bank yang memberikan mortgage juga mendapatkan keuntungan besar dengan menjual mortgage2 tersebut kepada Fannie dan Freddie. Amerika juga untung karena sekarang kebanyakan dari mereka dapat memiliki rumah.

Melihat besarnya keuntungan yang mungkin didapat, sektor swasta merasa harus ikut. Akhirnya Lehman Brothers, Bear Sterns dan pemain2 wall street lainnya mulai membeli subprime mortgage dari pihak perbankan dan membuat MBS sendiri untuk dijual ke para investor. Para investor mendapatkan keuntungan besar dari pembelian MBS ini dan karena keuntungannya sangat besar, mereka mulai menekan wall street untuk membuat banyak MBS.

Dengan demand MBS yang melimpah, wall street mulai menekan para bank agar memberikan kredit perumahan sebanyak mungkin. Dengan senang hati, mereka melakukan itu. Pada puncaknya, warga Amerika yang tadinya membutuhkan banyak persyaratan untuk mengambil mortgage, hanya tinggal membubuhkan tanda tangan perjanjian kesediaan melunasi mortgage. Pihak bank yang kemudian akan mengurus administrasinya (dengan mengisi banyak informasi palsu tentang si pengambil mortgage).

Dengan ini, semakin banyak lagi orang yang masuk ke pasar perumahan dan membeli rumah. Demand akan rumah meningkat dan harga rumah juga meningkat.

The Decline

Masalahnya muncul ketika harga rumah tidak lagi naik. Pada tahun 2006an, harga rumah mulai stabil dan bahkan cenderung turun. Hal ini mencegah orang2 untuk dapat melakukan refinancing dan memilih menyatakan default. Investor-investor cerdas mulai melakukan taruhan bahwa akan ada gelombang default yang besar pada subprime mortgage dan turunannya di masa mendatang. Salah satu bentuknya adalah dengan short selling instrumen MBS ini.

Short selling adalah praktek untuk meminjam sebuah instrumen investasi dari investor lain dan menjualnya dengan berharap harga instrumen itu akan turun. Jika harga tersebut sudah turun, sang short seller akan melakukan cover dengan membeli instrumen tersebut di pasar dengan harga yang lebih rendah dan mengembalikannya kepada investor yang dipinjami. Keuntungannya adalah selisih antara harga saat instrumen tersebut di-short dan harga saat instrumen tersebut di-cover.

Cara lain untuk bertaruh bahwa subprime mortgage dan MBSnya akan default adalah dengan membeli Credit Default Swaps (CDS). Dalam CDS terhadap MBS, sebuah perusahaan menjual asuransi untuk membeli kembali MBS dari investor yang memiliki CDS pada nilai muka (face value) jika ternyata MBS tersebut default (jika subprime mortgage default, MBS juga akan default). CDS ini dapat dibeli walaupun sang investor tidak memiliki MBS. Dengan itu, sang investor dapat membeli MBS saat sudah default dan menyerahkannya ke perusahaan yang menjual asuransi dalam bentuk CDS untuk ditukar dengan nilai muka.

Nama Credit Default Swap sendiri dipilih (bukannya Credit Default Insurance) karena dengan menggunakan istilah “Swap”, produk ini tidak kena berbagai regulasi yang diharuskan didalam dunia asuransi.

Sebagai contoh; seorang investor membeli CDS dari perusahaan asuransi AIG. Perjanjiannya adalah sang investor akan membayar $1000 dollar kepada AIG jika mereka bersedia menanggung MBS sebesar $100.000.  Jika sebuah MBS default dan dihargai $10 (face value $100), AIG akan membeli 1000 MBS milik investor tersebut senilai $100 dan menanggung kerugian sebesar $90.000.

Ternyata itu yang terjadi. Setelah harga rumah mulai turun, banyak orang yang tidak bisa melakukan refinancing akhirnya menyatakan default. Otomatis, MBS yang diperjualbelikan juga default. Investor-investor dan perusahaan-perusahaan yang masih memegang MBS ini menyatakan kerugian yang luar biasa besarnya. Diperkirakan, jumlah subprime mortgage sekitar beberapa ratus milliar dollar. Artinya, perusahaan2 yang masih memegang subprime mortgage atau turunannya, mengalami kerugian yang jika ditotal mencapai sekian ratus milliar dollar tersebut.

Tapi permasalahannya belum selesai sampai disitu. Selain produk subprime mortgage dan turunannya, masih ada produk CDS yang baru dibahas diatas. Konon, nilai tanggungan CDS-CDS ini mencapai total $54,7 Trilliun (karena tidak teregulasi, maka jumlah pastinya tidak dapat diketahui). Sebagai perbandingan, nilai GDP dunia pada tahun 2007 adalah sebesar $54,3 Trilliun.

Logikanya, kerugian tersebut akan menyebabkan hampir seluruh perusahaan yang memegangnya kolaps. bangkrut. Jika sebuah perusahaan bangkrut, ia akan melikuidasi aset2nya untuk membayar utang2 yang masih tersisa. Utang ini biasanya tidak kembali 100%. Oleh karena itu, perusahaan2 kreditor yang memegang kas sangat berhati-hati (bahkan menghentikan) pemberian pinjaman kepada perusahaan lain. Hal ini diperparah jika pemegang kas ini terekspos kerugian juga. Ini disebut Credit Crunch.

Celakanya, beberapa perusahaan sangat tergantung oleh kredit ini. Contoh yang paling kentara adalah perusahaan2 Investment banking. Karena ketiadaan likuiditas, perusahaan seperti Bear Sterns harus dibailout, Lehman Brothers harus kolaps, Merril Lynch diakuisisi, dan Morgan Stanley dan Goldman Sachs meninggalkan model bisnis investment banking dan berubah menjadi bank holding company. Selain itu, Fannie Mae, Freddie Mac juga dibailout. AIG, yang menjual CDS paling banyak, juga pada akhirnya diberi pinjaman oleh pemerintah Amerika. AIG memiliki keterikatan bisnis dengan banyak instansi internasional lainnya. Jika AIG dibiarkan kolaps, hampir dapat dipastikan akan ada banyak instansi internasional lainnya yang kolaps.

Walaupun sudah sekitar beberapa Trilliun dollar dikeluarkan oleh pemerintah Amerika untuk mem-bailout instansi-instansi ini dan memberikan fasilitas kredit jangka pendek, pasar kredit masih saja lesu. Credit Crunch masih terjadi. Jika berkepanjangan, hal ini dapat berdampak sangat signifikan pada dunia riil.

Sebagai contoh, dalam proses ekspor-impor dikenal sebuah surat penting bernama Letter of Credit (LC). LC merupakan surat jaminan bahwa bank akan memberikan uang kepada penjual jika barang telah dikirim kepada pembeli. Pembeli akan kemudian membayarkan uang tersebut kepada bank yang mengeluarkan LC, biasanya secara bertahap.

LC merupakan salah satu instrumen kredit yang sekarang sedang sulit untuk didapat. Beberapa bank bahkan sekarang meminta agar pembeli menyetorkan secara penuh uang untuk melunasi transaksi. Padahal, pembeli juga baru akan mendapatkan uang jika produknya sudah terjual lagi. Jika tidak ada LC, proses ekspor-impor akan terganggu karena tidak ada jaminan pembayaran. Jika tidak ada ekspor-impor, usaha akan berhenti. Jika usaha berhenti………saya rasa teman-teman sudah tahu sendiri apa akibatnya

Pasar saham global juga mengalami penurunan yang sangat tajam. Akarnya adalah ketidakpastian dalam dunia usaha yang menyebabkan investor menarik dana investasinya. Lalu diikuti dengan berbagai macam hal teknis seperti margin call yang membuat bursa semakin terperosok, atau para hedge fund yang menjual aset sahamnya karena memerlukan likuiditas. Melihat bursa semakin terperosok, investor yang tersisa memilih untuk menarik dananya dari bursa. Ini kemudian menambah keterpurukan bursa.

Krisis keuangan ini hanya dapat selesai jika akar permasalahannya dapat diisolir. Amerika sudah membuat kesalahan dengan memberikan mortgage pada orang2 yang tidak layak. Tapi hal itu sudah terlanjur terjadi dan dampaknya sudah mulai terlihat. Bailout terakhir senilai $850 Billion berfungsi untuk membeli aset2 (subprime) bermasalah sehingga mampu menciptakan kepercayaan pasar untuk menggulirkan kredit kembali. Dampaknya sudah mulai terlihat dengan membaiknya pasar kredit beberapa hari belakangan. Atau, jika harga perumahan naik kembali, hal ini dapat memicu gelombang refinancing sehingga subprime mortgage yang default jadi sedikit.

Namun, masih ada makhluk bernama CDS yang sampai sekarang belum diketahui bagaimana penyelesaiannya. Warren Buffett dalam kutipannya yang terkenal menyatakan bahwa “Derivatives are financial weapons of mass destruction”. Dia benar. Tapi sekarang dia mulai melakukan investasi lagi ke pasar saham, dengan pertimbangan bahwa sudah banyak perusahaan yang dijual dibawah intrinsic valuenya.Hal ini membawa kita kepada kutipan Warren Buffett yang lain: “Be fearful when others are greedy, be greedy when others are fearful”

Jika ada kesalahan atau kekurangan dalam artikel ini, saya mohon perbaikan dan inputnya.

Jika teman-teman merasa bahwa artikel ini membantu, tolong sebarkan ke teman-teman yang lain. Di facebook, bisa dilakukan dengan fitur share link pada halaman profile.

Sukses

Arlo Temenggung


Actions

Information

9 responses

5 11 2008
Nuki

Mas, maaf sblmy,sy bkn org yg bgt ‘paham’ mengenai mslh ekonomi. Saya ingin tya mengenai mslh krsis keu dAmrik sana. Khusus ttg penyebab hrga perum damrik mulai stabil,kenapa? Trimakasih mas..

22 11 2008
Edwin

Thank you very much for your post. Absolutely excellent information and very useful for me. Great done and keep posted. Looking forward to reading more from you.

6 12 2008
arloeat

Nuki: Harga perumahan, seperti harga instrumen investasi lainnya, tergantung dari supply dan demand. Salah satu hal yang mempengaruhi besaran Supply dan Demand ini adalah spekulasi; orang2 membeli rumah dengan tujuan untuk menjualnya kembali dan mendapatkan keuntungan. Dengan adanya spekulasi ini, harga rumah terus naik dan terciptalah sebuah fenomena yang dinamakan bubble. Sama halnya ketika harga tanaman bunga tulip naik melebihi harga rumah beberapa abad lalu, lama-kelamaan harga tersebut akan kembali kepada nilai fundamentalnya; nilai sesungguhnya. Itulah yang terjadi di Amerika. Harga rumah di Amerika menjadi stabil (bahkan di beberapa kota rata2 hara rumah turun sampai 50%).

Ada sebuah fenomena lain yang dapat diamati. Yaitu bahwa harga perumahan di daerah yang banyak foreclosurenya (rumah yang disita karena tidak mampu membayar cicilan mortgage) paling dalam terkoreksinya. Ilustrasinya adalah sebagai berikut: katakanlah ada 10 rumah yang bentuknya seragam di dalam sebuah kompleks. Diantara 10 rumah itu, ada 1 rumah yang disita. Dalam keadaan biasa, satu rumah dijual seharga $1.000.000. Namun, rumah yang disita dilelang dengan perkiraan harga $500.000. Suatu hari Nuki datang ke kompleks itu dengan rencana membeli sebuah rumah. Tentunya Nuki akan tertarik membeli rumah yang seharga $500.000 (asumsi semua rumah memiliki fitur2 yang sama). Jika saya, yang memiliki rumah lain di kompleks itu, ingin menjual ke Nuki, saya harus menawarkan harga yang mirip dengan harga rumah yang disita tersebut. Kalau tidak, rumah sayan tidak akan terjual. Ini mendorong harga rumah saya (dan tetangga2 saya) turun.

Mudah2an membantu

6 12 2008
arloeat

Edwin: Thanks

12 02 2009
zaidan

halo, salam kenal bung Arlo

Nama saya Zaidan. Tulisan yang sangat menarik. Menggambarkan krisis keuangan di Amerika dengan gamblang. Thanks for the info.

Jika diizinkan, saya mau mengutip beberapa bagian dari tulisan Anda, untuk tabloid internal perusahaan yang saya kelola. Tentu saja dengan mengindahkan kaidah jurnalistik (pengutipan dan pencantuman nara sumber) yang benar.

Dalam edisi awal tahun ini, kami akan mengangkat topik tentang apa yang akan dihadapi di tahun 2009 dan selanjutnya. Salah satunya, akan membahas sedikit info soal krisis keuangan di AS.

Terima kasih. Saya tunggu konfirmasinya.
Salam

4 03 2009
Adityo

Hai Arlo, artikel yang tentang krisis keuangan boleh saya tampilkan di ngubek.com ?

4 03 2009
arloeat

Zaidan: thanks..sorry telat nih, tapi kalau masih berminat, silakan aja..saya juga sedang menulis bagian kedua dari artikel ini, karena sudah banyak sekali perubahan yang terjadi..

Adityo and all: monggo aja..tapi kalau bisa kasitau linknya kesaya ya biar saya juga bisa baca blog/website teman2 yang menakjubkan itu :)

26 03 2009
malinda

Menurut mas apa solusi dari dampak krisis keuangan global saat ini ? jangan cm bisa buat artikel doank,kasih dunks solusinya agar negara qta bisa menjadi negara maju seperti negara amerika dkk !!!!! ok

26 03 2009
arloeat

@malinda: Thanks for the comment. Kalau ditanya “solusi dari dampak krisis keuangan global saat ini”, saya tidak tahu dan saya rasa tidak ada yang tahu (kalau ada, harusnya krisis ini dapat dicegah/sudah selesai). Yang jelas, solusi tidak akan bisa ditemukan jika kita tidak mengetahui seluk beluk permasalahannya.

Saya membuat artikel deskriptif ini semata2 untuk menjelaskan bagaimana kita bisa sampai di titik ini. Yang saya harapkan adalah agar pembaca dapat kemudian berpikir keras dan mencari sendiri solusi untuk keluar dari krisis ini, dan langsung bertindak. Karena yang jelas, untuk keluar dari krisis ini, semua orang harus memainkan bagiannya (apapun itu).

For my part, saya masih terus berjuang sebagai entrepreneur, karena saya rasa disitulah saya bisa berkontribusi. What do you think is your part?

Leave a comment